News Update :
Faisal Abdullah Al Makki. Diberdayakan oleh Blogger.

TheLAN Actions

FIFA KLASEMEN

Selamat Milad Laskar Aneuk Nanggroe yang ke 4.

Minggu, 10 April 2011

  
Assalamualaikum Wr Wb....
Hari ini tepat 4 tahun TheLAN didirikan, dahulu 11 April 2007 sekelompok Syedara-syedara tanyoe mendeklarasikan sebuah kelompok suporter yang akhirnya kita kenal dengan Laskar Aneuk Nanggroe. dengan singkatan awal adalah TheLAN. Laskar Aneuk Nanggroe, Suporter PSAP sejati. akan tetapi seiring dengan waktu dan seiring dengan naik turunnya Prestasi PSAP, TheLAN tidak pernah menyurutkan Semangat Laskar Aneuk Nanggroe Pecinta PSAP SIGLI di Manapun berada untuk selalu mendukung dan Mensport PSAP bertanding. Selamat ulang tahun Laskar Aneuk Nanggroe, semoga makin bisa mewarnai dunia persuporteran Indonesia dan terus menyebarkan virus - virus perdamaian. Amiiin Yaa Allah..
Untuk Semua Masyarakat PIDIE, Khususnya Pecinta PSAP dan TheLAN dimanapun aneuk nanggroe berada, kami ucapkan Terimakasih yang tak terhingga atas dukungan dan Semangatnya dalam mendukung kesebelasan Kebanggaan kita semua. PSAP...???? Go to ISL 2011/2012.
Wassalam
Admin TheLAN

FIFA dan Tugas Berat Agum Gumelar

Rabu, 06 April 2011

Pada akhirnya, FIFA menunjukkan taring dan kekuasaannya. Keputusan organisasi olah raga terbesar di dunia itu bersifat mengikat. Jika masih ingin menjadi bagian dari sepak bola dunia, maka PSSI harus tunduk dan menghentikan pertikaian internal.
Kata kunci telah dilontarkan dari markas besarnya di Swiss. Pertama, empat kandidat yang dinilai berseteru, Nurdin Halid (NH), Nirwan Dermawan Bakrie (NDB), George Toisutta (GT), dan Arifin Panigoro (AP), dilarang mencalonkan diri menjadi Ketua atau Wakil Ketua PSSI dan Komite Eksekutif.
Kedua, membentuk langsung Komite Normalisasi sekaligus menjalankan peran sebagai Komite Pemilihan. Mantan Ketua PSSI, Agum Gumelar, sebagai ketua dan tujuh pendampingnya ditunjuk secara langsung oleh FIFA.
Ketiga, aturan main sebagai landasan bekerja Komite Normalisasi dan Komite Pemilihan harus sesuai dengan statuta PSSI. Pada puncaknya, pemilihan pengurus baru PSSI periode 2011-15 harus sudah diselesaikan sebelum 21 Mei.
Penunjukan Agum bukan tidak mendapat perlawanan. Kenapa Agum yang ditunjuk juga tidak dijelaskan FIFA. Dasar bekerja FIFA mungkin setelah membaca dan meneliti segala laporan dari berbagai pihak yang berseteru. Bisa juga karena situasi dinilai masuk tahap force majeure.
***
Ketika ada orang yang berpikiran negatif dan curiga, maka apa pun keputusan akan ditentang. Alasan yang ditonjolkan selalu seolah-olah arus tunduk pada aturan main yang baku. Padahal, bisa saja yang bersangkutan menyimpan agenda tertentu.
Agar badai yang menerpa persepakbolaan Indonesia segera berlalu, seharusnya jalan tengah ini diterima dengan lapang dada. Kalau hanya perbedaan yang ditonjolkan, maka konflik ini tak akan pernah berakhir dan membuat upaya peningkatan prestasi hancur.
Sangatlah tepat seorang Agum, yang sudah lama tak mau terlibat langsung di sepak bola, masih bersedia tampil. Memang, ketika menjadi Ketua PSSI 1998-2003 belum menghasilkan prestasi menggembirakan, tapi popularitas sepak bola semakin naik.
Karena tidak dilatarbelakangi kepentingan pribadi, rasanya Agum bakal sukses mengurai polemik. Menurutnya, faktor komunikasi adalah titik persoalan dan prioritas yang mendesak dibangun.
Mengenal dan dikenal semua komunitas sepak bola negeri ini menjadi modal penting bagi Agum. Dengan tidak mau dan tak mungkin dipilih menjadi ketua, maka Agum cs. dapat bekerja dengan tenang dan adil dalam mengambil keputusan.
Persoalan terbesarnya adalah bagaimana mengakomodasi pemikiran pihakpihak bertikai. Sebutlah bagaimana tuntutan Komite Pemilihan bentukan 78 pemilik suara, apakah akan dibubarkan dan dianggap tidak ada atau suara mereka sah.
Bagaimana dengan breakaway league dengan nama Liga Primer Indonesia (LPI), yang sudah kadung berjalan, haruskah kompetisi bentukan Arifin Panigoro ini diterima setingkat Liga Super Indonesia (LSI)?
Bukan persoalan mudah memang karena para pengelola LPI mengaku jauh lebih profesional ketimbang LSI. LPI dikatakan murni klub yang didanai swasta, sedangkan LSI masih menyusu dana APBD.
PSSI sendiri sudah mengajukan agar LPI dimasukkan setingkat Divisi III. Hal ini ditolak mentahmentah oleh pengelola LPI. Tugas-tugas seperti inilah agenda kerja utama Agum dan kawan-kawan agar semua berakhir manis.
***
Oke, lupakan dulu siapa kandidat yang akan menjabat Ketua PSSI periode 2011-15. Berilah waktu kepada para calon mempersiapkan program kerja sebagai modal meyakinkan pemilik suara. Biarlah pada waktunya nanti kandidat yang terbaik yang terpilih.
Memang, setelah NH, NDB, GT, AP resmi ditolak, maka kandidat yang menyatakan bersedia menjadi orang nomor satu di PSSI tidak banyak. Ada G.H. Sutejo, Sutiyoso, Adhyaksa Dault, dan Diza Ali, yang memiliki latar belakang sepak bola cukup memadai.
Beberapa hal yang mungkin berpotensi menjadi sumber polemik baru adalah masalah siapa sesungguhnya profil pemilik hak suara. Tiga klub yang dicoret semasa kepemimpinan NH tetap menuntut hak, yakni PSM, Persibo, dan Persema.
Dari 100 pemilik suara hanya boleh diwakili ketua atau sekretaris. Peristiwa di Riau, yang gagal melangsungkan Kongres Nasional, justru melahirkan Kelompok 78 dan bahkan sempat menjadwal pemilihan ketua PSSI baru di Surabaya pada 26 April.
Tentu peta kekuatan berubah total dengan pembatalan hak pilih empat kandidat terkuat tadi. Nah, dalam komunikasi yang direncanakan Agum bersama Joko Driyono, Sukawi Sutarip, Siti Nuzanah, Hadi Rudiatmo, Samsul Ashar, Satim Sofyan, dan Dityo Pramono, ada baiknya masalah verifikasi pemilik suara menjadi prioritas.
Saya yakin dengan hadirnya Agum didukung tim yang kredibel akan menghasilkan produk baik. Memang, apa pun yang dicapai nanti tidak akan memuaskan semua pihak, tapi setidaknya sudah memangkas intrik yang tak sehat.
Dukungan Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng terhadap Agum cs. adalah pertanda ada kemajuan. Semoga kondisi ini dapat terus dipertahankan hingga terpilih pengurus baru PSSI hasil reformasi yang sangat melelahkan.
Tugas paling dekat adalah bagaimana kesebelasan Indonesia merebut emas SEA Games. Kesempatan menjadi juara sangat terbuka karena SEA Games pada November nanti dilangsungkan di Jakarta-Palembang.
So, stop gontok-gontokan untuk satu tujuan: Indonesia juara!
ian@bolanews.com
(Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA No. 2.180 terbit 7 April 2011)

Kabut Semakin Pekat di PSSI



Keputusan sudah dijatuhkan. Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng menyatakan PSSI di bawah Nurdin Halid (NH) tak lagi diakui. Segala fasilitas negara dicabut, mulai dari anggaran hingga dukungan pihak keamanan.
Semua aktivitas PSSI dihentikan dan akan diambil alih pemerintah dan KONI/KOI. Bahkan, kantor PSSI di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan harus dikosongkan karena kantor tersebut adalah juga milik negara.
Sungguh keputusan pahit dan menyakitkan. Para pengurus PSSI menjadi seperti sekelompok orang yang terusir dari rumahnya. Tampaknya tak ada lagi pembelaan yang dapat menyelamatkan NH dari posisi terbuang.
Resistensi masyarakat terlalu kuat menolak perpanjangan kehadiran NH di tubuh PSSI. Prestasi yang diharapkan lahir dari masa kepengurusan NH selama 7 tahun dinilai tidak ada sama sekali. Satu dosa besar yang dituduhkan terutama kebohongan masalah statuta FIFA yang banyak dipelintir.
Bukan Nurdin namanya kalau sekali gertak langsung keok. Putra Bugis yang satu daerah dengan Menpora itu melakukan perlawanan keras. NH malah meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencopot jabatan Andi karena dianggap tidak cakap menjalankan tugas negara.
Di sisi lain, kelompok yang mengaku mewakili 78 suara dari 100 pemilik hak suara PSSI terus melakukan konsolidasi. Mereka siap melaksanakan kongres sesuai jadwal awal yang dirilis FIFA, dengan agenda pemilihan ketua di Surabaya pada 26 April.
***
Badan tertinggi sepak bola dunia, FIFA, hingga kini belum mengambil sikap seputar polemik antara PSSI dan pemerintah. Apakah FIFA akan melindungi PSSI di bawah NH atau mendukung keputusan Menpora yang membekukan kepemimpinan NH dan Sekjen Nugraha Besoes.
Konflik ini telah menembus batas yang sangat jauh. Persoalan tak lagi sekadar tuntutan memaksa NH keluar dari lingkaran sepak bola, tapi sudah menjadi isu politik yang liar dan tak terkendali.
Aneka macam isu merebak. Ada yang mengatakan bahwa konflik ini sengaja dikencangkan sebagai alat pengalihan isu pencemaran nama baik SBY oleh koran Australia The Age dan Sydney Morning Herarld yang mengutip info dari wikileaks.
Orang lain menyebut bahwa massa sepak bola menjadi alasan kuat dua partai besar saling berebut. NH di kubu Golkar dan Andi menjadi pasukan terdepan sebagai antisipasi menjelang pemilu 2014.
Jangan pernah mencari jawaban pasti dari opini liar itu. Termasuk isu penokohan George Toisutta (GT) menjadi orang nomor satu di PSSI. Jabatan sosial itu ditiupkan karena KSAD ini segera memasuki masa pensiun sehingga perlu lahan kesibukan.
Ditarik mundur jauh ke belakang, ada juga yang meniupkan bahwa Arifin Panigoro didukung 9 Naga. Kumpulan 9 pengusaha besar ini dirumorkan merupakan musuh bisnis kelompok Bakrie saat Aburizal menjabat Menko Ekuin pada masa pemerintahan SBY periode pertama.
Apa pun alasannya, Menpora sudah melaksanakan tugasnya sesuai wewenang yang dimiliki. NH mempertahankan diri dengan menuding balik Menpora sebagai ekspresi kegalauan hati dan keinginan mempertahankan keyakinan.
Situasi sekarang ini menunjukkan nyaris tak terbuka lagi pintu dialog di antara pihak bertikai dengan logika bersih. Semua pihak merasa paling benar dan menjadi pahlawan atas nama demi kemajuan sepak bola Indonesia.
***
Ketimbang menambah ricuh, saya menyarankan semua pihak menahan diri. Karena tidak ada titik temu bagi insan sepak bola kita, maka jalan akhir adalah berkonsultasi intensif dengan FIFA dan harus berjiwa besar menerima keputusan.
Saya pernah menyarankan agar suasana reda, maka kedua kubu: Arifin Panigo (AP) dan GT maupun NH dan Nirwan Bakrie (NDB) tidak lagi maju sebagai kandidat wakil dan ketua PSSI periode 2011-15.
Kenapa keempatnya disarankan berada di luar lingkar sepak bola? Ini dimaksudkan agar tidak terjadi lagi gontok-gontokan di kemudian hari. Orang yang tersisih umumnya berpotensi untuk terus mengusik kepemimpinan pihak lawan, itu saja.
Usulan lain, jika jalur utama macet, maka perlu dicari jalan alternatif. Karena itu tampillah tiga nama tokoh yang dituakan, yaitu Jusuf Kalla, Sutiyoso dan Agum Gumelar.
Mereka ini secara bersama-sama atau sendiri-sendiri patut diberi tugas sebagai penengah. Untuk sementara menjalankan fungsi PSSI sambil mempersiapkan pemilihan ketua sah melalui kongres.
Berkembang opini baru. Sebagai jalan tengah, ada yang mengusulkan agar pihak bertikai melakukan rekonsiliasi dan membentuk koalisi. Hubungan yang dimaksudkan adalah membangun satu kepengurusan yang terdiri dari kedua kubu.
Tersebutlah nama GT di posisi ketua umum dengan NDB sebagai wakil. Ada beberapa nama di PSSI yang bekerja secara profesional dan patut diakomodasi, seperti Iman Arif, Hinca Panjaitan, Joko Driyono, dan Demis Djamaoeddin. Sama halnya dengan tokoh-tokoh muda di pihak yang patut diberi kesempatan.
Semua ini tentu tidak ada artinya bila FIFA menjatuhkan sanksi berupa pencoretan dari keanggotaan. Bila hantu pencoretan sampai turun, maka itu merupakan kerugian besar bagi negeri ini. Akibat terburuknya adalah sepak bola tidak dapat dipertandingkan di SEA Games November mendatang di Palembang dan Jakarta.
Kabut di PSSI saat ini semakin pekat dan akan lebih gelap lagi jika tidak ada rasa saling memahami. Mempertahankan kebenaran sendiri memang bagus, tapi apa artinya bila justru semakin merusak sepak bola Indonesia.
Jadi, mari utamakan logika ketimbang emosi. Please!
ian@bolanews.com
(Dikutip dari Rubrik Catatan Ringan Tabloid BOLA No. 2.177 terbit 31 Maret 2011)

Komite Normalisasi Tancap Gas

Selasa, 05 April 2011

Agum Gumelar dan Joko Driyono, menunjukan SK dari FIFA.   
Usai menerima mandat dari FIFA, Komite Normalisasi PSSI segera menjalankan tugas besok, Rabu (6/4). Menggelar kongres sebelum 21 Mei mendatang, menjadi agenda utama.
"Saya diberi mandat FIFA menjadi Ketua Komite Normalisasi PSSI. SK (Surat Keputusan-Red) keluar tanggal 4 April kemarin. Begitu keluar keputusan, saya langsung dikirimi email,” ujar Agum Gumelar, di kediamannya jalan Panglima Polim V, Jakarta, Selasa (5/4).

“Besok kami akan langsung bekerja. Tugas kami, melaksanakan isi yang dimandatkan FIFA. Pertama: melaksanakan kongres untuk membentuk ketua PSSI, sebelum 21 Mei. Kedua: segera membaur LPI (Liga Primer Indonesia) di bawah kontrol PSSI. Untuk masalah itu, saya harus berkomunikasi dengan banyak pihak,” tambah Agum.

Lebih lanjut, mantan Ketua Umum PSSI itu mengatakan, Komite Normalisasi akan menjalankan kegiatan keseharian PSSI, seperti pembinaan dan lainnya. “Day to day menjalankan aktivitas PSSI.”

“Saya akan datang besok, berbicara kepada anggota dan karyawan PSSI untuk tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Saya tidak bisa berbicara hasilnya bagaimana, tunggu kami bekerja ke depan. Yang pasti saya ingin semua bekerja atas nama Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Komite Normalisasi dibantu tujuh anggota, antara lain: Joko Driyono (CEO PT Liga Indonesia), Sukawi Sutarip (Ketua Pengprov Jawa Tengah), Siti Nurzanah (Arema Indonesia), Hadi Rudiatmo (Persis), Samsul Ashar (Persik Kediri), Satim Sofyan (Pengprov Banten), dan Dityo Pramoni (Medan Bintang).

Komite Normalisasi tersebut terdiri dari para insan sepak bola Indonesia yang tidak akan bisa duduk dalam sebuah posisi di PSSI dan akan bertindak sebagai komite pemilihan.

LPI PROFESIONAL..?

Senin, 04 April 2011

LPI itu benar2 Profesional yach?? sehingga Pemain Ditacle kaki mau patah pun gak Protes?? ingat bung, saya senang dengan REVOLUSI PSSI, tapi tidak Senang dengan Kehadiran LPI.. LPI telah merusak Iklim Sepakbola Indonesia. FIFA udah Jelas kok, tidak pernah mengakui Yang berbau sepakbola jika tidak berafeliansi ke Induk Sepakbola di Negara tersbut, dalam hal ini PSSI, enak kali kalian, lahir dengan Tiba2 minta digabungkan ke ISL, bagaimana dengan Team Divisi Utama yang sudah berkucur darah untuk promosi ISL,,?? kalian enak2 kan minta langsung ke ISL... udah..... Bubarin LPI dan Kembalikan PSM, Persibo dan Persema ke Habitat Sepakbola yang sebenarnya.. Klub yang lainnya?? harus merangkak dari Divisi III.Jika mau diakui oleh FIFA. bagaimana Bung Abi LPI?? Bukan karena kalian hari ini Punya uang, terus bisa membeli Semuanya.
Bagaimana mau dikatakan Profesional? Masih ingat kasus Roman Abramovich Pemilik Chelsea, FIFA menekankan kepada UEFA Agar Roman Abramovich memilih salah satu Klub antara Chelsea dan satu klub di Rusia. sebagaimana dilansir, Roman Abramovich memiliki satu klub di Rusia.
ini saja sudah membuktikan, FIFA melarang Personal/Konsorsium untuk memiliki lebih dari satu klub di kawasan bersangkutan (Benua)..  Rusia dan English, mungkin masih jarang ketemu.
tapi FIFA tegas mengatakan tidak mengizinkan itu terjadi.. nah... bagaimana dengan LPI yang profesional katanya.. Konsorsium mendanai  19 Klub di Indonesia?? satu Kompetisi Pula....
apakah ini PROFESIONAL namanya??? bisa2 Sepakbola Indonesia akan Terjadi REZIM II Pasca NH .Cs..

KPK Temukan Pelanggaran Penggunaan APBD untuk Klub


Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung melakukan kajian terhadap penggunaan APBD untuk keperluan sepakbola. KPK menemukan setidaknya tiga pelanggaran terhadap penggunaan APBD.

"Berdasarkan kajian yang kami lakukan, KPK mengidentifikasi tiga temuan," tutur Pimpinan KPK M Jasin ketika memaparkan hasil kajian KPK, di kantornya, Jl Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (5/4/2011).

Tiga temuan dari KPK tersebut adalah, pertama, dilanggarnya asas umum pengelolaan keuangan daerah pada pengelolaan dana APBD bagi klub sepak bola. Kedua, adanya rangkap jabatan pejabat publik pada penyelenggaraan keolahragaan di daerah yang dapat menimbulkan konflik kepentingan

Sedangkan, ketiga, dilanggarnya prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan hibah dari APBD. Jasin mengatakan, permasalahan tersebut secara umum mengakibatkan alokasi anggaran hibah kepada klub sepak bola menjadi tidak adil jika dibandingkan dengan alokasi untuk beberapa urusan wajib lainnya.

"Serta memunculkan potensi konflik kepentingan dan timbulnya berbagai variasi aturan yang berpotensi korupsi," papar Jasin.

Fresh News: FIFA ambil alih kontrol trhdp PSSI. GT, AP, NB, NH dilarang jd ketua PSSI



Normalisation Committee in Indonesia
(FIFA.com) Monday 4 April 2011
Print
Email my friend
Share

Following the latest events linked to the Football Association of Indonesia (PSSI), the FIFA Emergency Committee decided on 1 April 2011 that, in accordance with article 7 paragraph 2 of the FIFA Statutes, a Normalisation Committee will take over from the current PSSI executive committee.

The FIFA Emergency Committee estimated that the current PSSI leadership was not in control of football in Indonesia as proven by the failure to gain control of the run-away league (Liga Premiere, LPI) set up without the involvement of PSSI or by the fact it could not organise a congress whose sole goals were to adopt an electoral code and elect an electoral commission. The FIFA Emergency Committee came thus to the conclusion that the PSSI leadership had lost all credibility within Indonesia and was not in a position anymore to lead the process to solve the current crisis.

The mission of the Normalisation Committee is: to organise elections based on the FIFA electoral code and PSSI statutes before 21 May 2011; to bring the run-away league under PSSI control or have it stopped as soon as possible; to run the day-to-day activities of PSSI in a spirit of reconciliation for the good of the Indonesian football

The Normalisation Committee is composed by personalities of the Indonesian football who will not be able to run for any of the PSSI positions and would act as an electoral commission. It confirmed as well the non-eligibility to the Presidency of PSSI of the four candidates who were rejected by the PSSI appeal committee on 28 February 2011.


Komite Normalisasi di Indonesia

Sehubungan dgn kondisi terkini di PSSI, FIFA Emergency Committee, pada 1 appril 2011 memutuskan, sesaui dgn pasal 7 paragraf 2 Statuta FIFA, sebuah Komite Normalisasi akan mengambil alih Exco PSSI saat ini.

FIFA Emergency Committee memperkirakan bahwa tampuk kepemimpinan PSSI saat ini tidak dpt melakukan kontrol terhadap persepakbolaan Indonesia, yg ditunjukkan dgn kegagalan mengkontrol liga "pemberontak" (Liga Primer, LPI) yang di bentuk tanpa campur tangan PSSI atau/serta secara nyata tidak mampu mengelola kongres yang bertujuan utama mengadopsi electoral code dan memilih Komisi Pemilihan. FIFA Emergency Committee menyimpulkan bahwa kepemimpinan PSSI telah kehilangan seluruh kredibilitasnya di Indonesia dan tidak berada pada posisi untuk bisa mengawal suatu proses yang dapat menyelesaikan krisis yang sedang terjadi.

Misi dari Komite Normalisasi adalah untuk: melakukan pemilihan yang berdasarkan FIFA electoral code dan statuta PSSI sebelum 21 May 2011; mengkontrol liga "pemberontak" berada dibawah PSSI atau menghentikannya sesegera mungkin; menjalankan aktifitas keseharian dalam semagat rekonsiliasi untuk kebaikan persepakbolaan Indonesia.

Komite Normalisasi terdiri atas orang2 persepakbolaan Indonesia yg tidak akan memiliki posisi dalam PSSI dan akan bertindak sebagai Komisi Pemilihan. Juga dikonfirmasikan bahwa 4 kandidat yang ditolak oleh komisi Banding pada 28 Feb 2011 tidak dapat menjadi Ketua PSSI.

Menpora Dukung Keputusan FIFA Terhadap PSSI

Andi Alfian Mallarangeng

Jakarta - Keputusan FIFA untuk membentuk Komite Normalisasi dan mengambilalih Exco PSSI, disambut baik Menpora Andi Mallarangeng. Menurutnya, keputusan tersebut sudah sejalan dengan apa yang diinginkan pemerintah.

Seperi diberitakan sebelumnya, FIFA mengambil langkah tegas terkait kisruh di tubuh PSSI. Mereka juga menyebut bahwa PSSI sudah tak lagi dinilai kredibel dalam menjalankan persepakbolaan di Indonesia.

"Kami juga sudah mendapat kabar semalam tentang keputusan FIFA itu. Intinya pemerintah menyambut baik keputusan FIFA untuk membentuk Komite Normalissasi dan mengambilalih kepengurusan Exco PSSI saat ini," ujar Andi kepada wartawan di kantor KPK, Selasa (5/4/2011) pagi WIB.

"Ini sejalan dengan kepututsan pemerintah sebelumnya yang tidak mengakui kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan NH (Nurdin Halid). Dengan demikian maka semuanya sudah klop, apa yang sudah dituliskan FIFA dan apa yang dituliskan pemerintah."

"Kita tinggal menunggu kapan terbentuknya Komite Normalisasi tersebut. Dan begitu Komite Normalisasi terbentuk, maka pemerintah bisa segera memfasilitasi, memberi pelayanan, sehingga komite itu bisa menjalankan tugasnya menyelenggarakan kongres pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum dan anggota Exco PSSI lainnya."

"Dan jika Komite Normalisasi sudah terbentuk nantinya, fasilitas yang bisa kami berikan adalah bisa menempati kantor PSSI yang sekarang dan menjalankan fungsi keseharian PSSI sebagaimana layaknya di kantor PSSI tersebut."

"Kami segera berkomunikasi dengam FIFA untuk menanyakan info yg lebih detail, dalam hal ini termasuk personel Komite Normalisasi."

"Sebagaimana yang diputusakan FIFA, Komite Normalisasi akan diawaki insan bola Indonesia yang kredibel, terpandang, tapi tak punya ambisi untuk mencalonkan ataupun dicalonkan dalam kepengurusan PSSI."

"Dan kami menunggu, setelah komite itu berjalan kami mendukung sepenuhnya akan memfasilitasi menjalankan kompetisi liga apakah itu LSI (Liga Super), Divisi Utama, hinga Divisi I, II dan III. Pokoknya semua berjalan terus. Juga persiapan timnas juga berjalan didukung terus," tegas Andi.

FIFA Tugaskan Komite Normalisasi Ambil Alih PSSI


Akhirnya FIFA benar2 siap menengahi kisruh yang tiada akhir..
sekarang mari kenali diri dan fungsi masing-masing.. jangan asal Serobot.
PSSI harus diselamatkan, dan LPI harus dibubarkan!!
karena gak berafeliasi dibawah nangungan PSSI, karena PSSI masih "anak" FIFA.
Nurdin sudah memutuskan tidak akan mencalonkan lagi, dan itukan alasan dari pihak jenggala melakukan ini semua?? sekarang semua udah clear, PSSI ada ditangan yang sebenarnya, yakni FIFA, seperti ulasan FIFA per 1 April 2011.
Keputusan itu diambil FIFA setelah PSSI tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan induk asosiasi sepak bola Dunia itu pada mereka. FIFA menilai PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid gagal mengontrol liga tandingan arahan Arifin Panigoro, Liga Primer Indonesia (LPI). Tidak hanya itu, FIFA juga menilai Nurdin gagal menyelenggarakan kongres sebelum tengat waktu yang telah ditentukan, yaitu 30 Maret 2011.

Berdasarkan pernyataan resmi yang dilansir situs resmi FIFA, Komite Normalisasi ini akan bertugas, "Mengorganisasi kongres berdasar standard electoral code FIFA dan statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011, mengontrol liga tandingan atau membubarkannya secepatnya, menjalankan aktivitas keseharian PSSI di dalam semangat rekonsiliasi untuk kebaikan sepak bola Indonesia."

Berdasarkan pernyataan resmi FIFA, Komite Normalisasi itu sendiri akan terdiri dari tokoh-tokoh sepak bola Indonesia, yang tidak akan bisa dicalonkan pada posisi apapun di PSSI periode selanjutnya. Selain itu FIFA memutuskan kalau empat calon ketua umum PSSI, yang sebelumnya dibatalkan oleh Komite Banding PSSI pada 28 Februari lalu, tidak diperkenankan lagi ikut pemilihan ketua umum PSSI periode selanjutnya.

STATEMENT TheLAN UNTUK PERTANDINGAN PSAP SIGLI VS PERSIH TEMBILAHAN TANGGAL 02 APRIL 2011 KUTA ASAN STADIUM

Rabu, 30 Maret 2011


Sagoe Baroeh Kuta Asan – Harimau Rawa itu bukan Carnivora Pemakan Daging yang serta merta datang ke Kuta Asan Sehingga bisa memiliki kemampuan menyayat kita PSAP, Mereka Cuma Harimau pemakan Sayuran dan Pelet aja. TheLAN akan tetap menyambut Harimau Rawa dengan Senyuman yang indah, tapi mata kami akan tetap membelalak Menatap mempelototin mereka.
Dan Kami minta kepada PANPEL Pertandingan di Kuta Asan agar kiranya bisa Fokus untuk menjaga Keamanan baik di Stadion Kuta Asan maupun diluar Stadion kepada PERSIH TEMBILAHAN Selama mereka berada di Wilayah Pidie hingga ke Perbatasan.. hal ini harus dilakukan berkenaan dengan Sikap Panpel, Manajement, Perangkat Pertandingan, Penonton Serta Oknum Aparat di Stadion Beringin Tembilahan yang serta merta telah menciderai Sifat Sportivitas Sepakbola dengan Sikap Anarkis mereka terhadap kesebelasan PSAP. yang kita takutkan adalah adanya Sikap Balas Dendam yang bisa saja dilakukan oleh Penonton, hal ini dikarenakan, Sikap Penonton Persih yang mengejar dan Melempari Pemain PSAP hingga ke Penginapan.
Kepada segenap Saudara-saudara kami dari Laskar Aneuk Nanggroe dan Penonton yang hadir nantinya di Kuta Asan, kami menghimbau untuk menjaga ketentraman dan kenyamanan, tidak boleh ada lemparan dalam bentuk apapun selama pertandingan PSAP Vs PERSIH dan Pastinya Selama mereka berada di Ranah Hukum Pidie. Karena jika hal ini terjadi, yang pastinya PANPEL akan terkena sanksi dan bisa-bisa  akan berdampak buruk serta Sanksi berat terhadap PSAP.
TheLAN juga meminta kepada segenap pemain maupun pengurus Persih Tembilahan, selama kalian Bertanding, jangan coba-coba untuk memancing suasanan yang aman menjadi tidak nyaman serta memprovokasi selama pertandingan. Hal ini kita takutkan akan membuat Penonton yang hadir bisa terpancing dan marah. Buktikan kalau orang Pidie memang Jagonya memuliakan tamu, tapi dengan catatan Persih na nginap di Sigli,,,,,menyoe hana nginap dan langsung dari Banda.. Persih Bukan Jamee tanyoe. Ayoo kita dukung PSAP dengan sikap santun dan sopan. Jangan bunuh team PSAP dengan sikap Racisme, dan Anarkis. Karena Laskar Aneuk Nanggroe Cinta Perdamaian.

Wassalam
TheLAN

Mengenai Saya

Foto saya
Sigli, Aceh, Indonesia
 

© Copyright THE LAN 2007 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.